Senin, 16 Januari 2017

Malam kian berlalu, suara jangkriklah yang menemani  malam panjang dengan angan-angan yang terpendam. Burung hantu pun mulai menujukan kegagahannya dengan suara khas , seakan ia berkata padaku “wahai anak manusia tidurlah, hari sudah menjelang dini mengapa masih membukakan matamu?”. Suara kendaraan berlalu lalang yang biasanya ramai kini hanya selewat-selewat saja.
Hari ini malam kian panjang tak seperti malam biasanya yang aku lalui tiap waktu. Anehnya malam ini aku tak bisa memejamkan mataku dan rasa kantuk pun tak menemuiku di malam ini, makadari itu malam ini ku sebut malam yang amat panjang menuju esok yang tak satupun tau apa yang akan terjadi.
Tidur di malam senin bagi sebagian pelajar itu harus dan wajib untuk menyongsong esok yang sangat panjang dengan kepenatan pelajaran yang di ajarkan para manusia yang mulia membagikan ilmu yang dia dapatkan dan di berikan kepada murid-muridnya. Akupun beranggapan sama bahwa tidur juga sebagai salah satu kebutuhan manusia yang normal pada umumnya. Akan tetapi melam senin kali ini aku tak bisa menutup mataku dengan tenang dan dengan rasa kantuk yang di rasa. Malah hati ini rasanya bimbang dan tak tau apa yang harus ku lakukan ketika aku dalam bimbang yang melanda saat ini. Yang akau rasa ketika aku hendak memaksakan  kehendak ku untuk tidur, bukan malah nyaman dan tentram, malah aku mengingat masa dimana aku yang sekarang telah memaluinya beberapa tahun kebelakanga. Aku bertanya kepada diriku sendri  kenapa aku harus memikirkan masa lalu yang telah using di makan waktu  seperti ini. Disaat aku mulai lupa dengan masa lalu itu, malah datang tiba-tiba tak tahu datangnya karena apa dan kenapa, itu menjadi sebuah pertanyaan besar di benak ku yang mulai bercengkrama dengan masa lalu.
Sempat aku memikirkan juga mungkinkah masa laluku juga mengalami hal yang sama seperti ini dan merasakan hal yang sama?. sungguh tak mungkin rasanya karena, mungkin luka yang telah aku goreskan terlalu dalam dan mungkin saja juga terlalu besar sampai tak bisa terobati seiring dengan waktu yang berlalu bagai air di sungai. Akupun mengusir semua perasangka itu dan tak mau terhanyut terus menerus. Akan tetapi ketika di ingat-ingat indah sekali masa dimana aku mejadi abu-abu yang belum tentu warna yang harus ku pilih dengan bijak dan dengan tepat sesuai dengan apa yang akau harapkan untuk  masa depanku nanti di sana. Kenangan itu kian terus membesar di kepalaku seakan ada sebuah kunci yang membukanya dengan seketika. Yaah,, megingat seorang wanita yang aku dambakan selama 2 setengah tahun itu sangatlah lama. Butuh waktu untuk mengungkapkannya dan butuh keberanian yang nyata juga karena kata orang cinta itu butuh yang nyata bukan hanya bualan semata yang tak terlihat oleh mata dan karsa. Yah,, mengumpulkan keberanian itu tak mudah bahkan ada tahap dimana aku harus menguji kepada orang lain dulu sebelum kepadanya. Karena apa, sebagai teman  dan menggeluti hoby yang sama dan aku terkesan humoris juga, ketakutanku ketika aku langsung padanya malah tertawaan yang ku dapat seusai ku curakhan seisi hati kepada pujaan hati 2 setengah tahun.
Takut selalu menghantuiku sampai aku merasa bahwa aku tak boleh mengungkapkan kepadanya. Takutnya dengan ungkapan tu akan menjauhkan aku dari teman  juga. Karena biasanya juga seperti itu. Aku sempat berpikiran aku tak bisa mengambil resiko yang ada aku tak mau kehilangan senyum manis di wajahnya. Ada bagian dimana aku sangat menyukainya, ya di bagian hidung yang sangat aku sukai dari wanita ini, karena sering yang menjadi perdebatan juga bahwa siapa sih hidung paling mancung hahaha
Harus ku akui sih bahwa dia jauh lebih mancung dengan hidung yang tah di punyai banyak orang. Akalu di ibaratkan seperti katak yang sedang duduk. Hhahaha . nah itu yang menjadikan aku sangat suka pada hidungnya. Karena hidungku tak terlalu mancug, dia selalu berdebat   masalah hhhudung dengan ku ampe berjamjam lamanya sampai ada salah satu diantara kita yang mengalah hahh itu yang menjadi salah satuuu kenangan mas lalu yang ku ingat.