Malam kian berlalu, suara
jangkriklah yang menemani malam panjang
dengan angan-angan yang terpendam. Burung hantu pun mulai menujukan
kegagahannya dengan suara khas , seakan ia berkata padaku “wahai anak manusia
tidurlah, hari sudah menjelang dini mengapa masih membukakan matamu?”. Suara
kendaraan berlalu lalang yang biasanya ramai kini hanya selewat-selewat saja.
Hari ini malam kian panjang tak
seperti malam biasanya yang aku lalui tiap waktu. Anehnya malam ini aku tak
bisa memejamkan mataku dan rasa kantuk pun tak menemuiku di malam ini, makadari
itu malam ini ku sebut malam yang amat panjang menuju esok yang tak satupun tau
apa yang akan terjadi.
Tidur di malam senin bagi
sebagian pelajar itu harus dan wajib untuk menyongsong esok yang sangat panjang
dengan kepenatan pelajaran yang di ajarkan para manusia yang mulia membagikan
ilmu yang dia dapatkan dan di berikan kepada murid-muridnya. Akupun beranggapan
sama bahwa tidur juga sebagai salah satu kebutuhan manusia yang normal pada
umumnya. Akan tetapi melam senin kali ini aku tak bisa menutup mataku dengan
tenang dan dengan rasa kantuk yang di rasa. Malah hati ini rasanya bimbang dan
tak tau apa yang harus ku lakukan ketika aku dalam bimbang yang melanda saat
ini. Yang akau rasa ketika aku hendak memaksakan kehendak ku untuk tidur, bukan malah nyaman
dan tentram, malah aku mengingat masa dimana aku yang sekarang telah memaluinya
beberapa tahun kebelakanga. Aku bertanya kepada diriku sendri kenapa aku harus memikirkan masa lalu yang
telah using di makan waktu seperti ini.
Disaat aku mulai lupa dengan masa lalu itu, malah datang tiba-tiba tak tahu
datangnya karena apa dan kenapa, itu menjadi sebuah pertanyaan besar di benak
ku yang mulai bercengkrama dengan masa lalu.
Sempat aku memikirkan juga mungkinkah
masa laluku juga mengalami hal yang sama seperti ini dan merasakan hal yang
sama?. sungguh tak mungkin rasanya karena, mungkin luka yang telah aku goreskan
terlalu dalam dan mungkin saja juga terlalu besar sampai tak bisa terobati
seiring dengan waktu yang berlalu bagai air di sungai. Akupun mengusir semua
perasangka itu dan tak mau terhanyut terus menerus. Akan tetapi ketika di
ingat-ingat indah sekali masa dimana aku mejadi abu-abu yang belum tentu warna
yang harus ku pilih dengan bijak dan dengan tepat sesuai dengan apa yang akau
harapkan untuk masa depanku nanti di
sana. Kenangan itu kian terus membesar di kepalaku seakan ada sebuah kunci yang
membukanya dengan seketika. Yaah,, megingat seorang wanita yang aku dambakan
selama 2 setengah tahun itu sangatlah lama. Butuh waktu untuk mengungkapkannya
dan butuh keberanian yang nyata juga karena kata orang cinta itu butuh yang
nyata bukan hanya bualan semata yang tak terlihat oleh mata dan karsa. Yah,,
mengumpulkan keberanian itu tak mudah bahkan ada tahap dimana aku harus menguji
kepada orang lain dulu sebelum kepadanya. Karena apa, sebagai teman dan menggeluti hoby yang sama dan aku
terkesan humoris juga, ketakutanku ketika aku langsung padanya malah tertawaan
yang ku dapat seusai ku curakhan seisi hati kepada pujaan hati 2 setengah
tahun.
Takut selalu menghantuiku sampai
aku merasa bahwa aku tak boleh mengungkapkan kepadanya. Takutnya dengan
ungkapan tu akan menjauhkan aku dari teman
juga. Karena biasanya juga seperti itu. Aku sempat berpikiran aku tak
bisa mengambil resiko yang ada aku tak mau kehilangan senyum manis di wajahnya.
Ada bagian dimana aku sangat menyukainya, ya di bagian hidung yang sangat aku
sukai dari wanita ini, karena sering yang menjadi perdebatan juga bahwa siapa
sih hidung paling mancung hahaha
Harus ku akui sih bahwa dia jauh
lebih mancung dengan hidung yang tah di punyai banyak orang. Akalu di ibaratkan
seperti katak yang sedang duduk. Hhahaha . nah itu yang menjadikan aku sangat
suka pada hidungnya. Karena hidungku tak terlalu mancug, dia selalu
berdebat masalah hhhudung dengan ku
ampe berjamjam lamanya sampai ada salah satu diantara kita yang mengalah hahh
itu yang menjadi salah satuuu kenangan mas lalu yang ku ingat.